Depresi Terselubung Mengintai Masyarakat Perkotaan

rsjsh


Masyarakat perkotaan yang dihadapkan pada setumpuk beban kerja dan tuntutan mobilitas waktu serba cepat dalam rutinitas harian seringkali dihinggapi oleh masalah kesehatan jiwa yang dikenal dengan istilah “Depresi Terselubung (Masked Depresion).” Depresi terselubung dapat mengintai para pekerja perkotaan dengan jadwal kesibukan yang padat dan menyita waktu.

Tampilan Depresi Terselubung dapat muncul seperti pada ilustrasi kasus berikut ini: Seorang lakilaki berusia 38 tahun dirujuk dari Klinik Penyakit Syaraf dengan keluhan nyeri punggung bagian bawah yang tidak mereda selama kurang lebih 6 bulan. Sebelumnya pasien telah mengunjungi beberapa dokter (doctor shopping), mulai dari umum sampai dengan spesialis. Seluruh dokter yang ditemui menyatakan bahwa kondisi fisik pasien adalah bak-baik saja. Akhirnya pasien disarankan untuk berkonsultasi kepada psikiater terkait keluhannya itu. Kegiatan hariannya sebagai public relations di sebuah kantor layanan publik perkotaan menjadi terganggu sehubungan keluhannya itu. Pada pertemuan di ruang konsultasi psikiatri, pasien tampak lebih mudah tersinggung dan mengatakan cepat menjadi lelah. Pasien menyangkal terdapat permasalahan di dalam kantor tempat dirinya bekerja. Pemeriksaan penunjang yang relevan juga menunjukkan hasil normal.

Gangguan depresi biasanya tampil secara klinis dalam bentuk keluhan somatik, afektif, dan kognitif.Depresi terselubung memiliki gambaran yang unik, karena tampilan gejala somatiknya muncul lebih depan daripada gejala psikologis inti. Kondisi ini seringkali dijumpai awal oleh dokter umum yang bertugas di pelayanan primer. Laporan penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah dari depresi tampil secara dominan atau eksklusif dalam bentuk gejala somatik sehingga sering tidak dikenali atau salah di diagnosis pada awalnya.

Tiga gejala utama dari depresi, seperti: mood depresif (sedih), anhedonia (kehilangan minat), dan anergia (tidak bersemangat) pada tampilan depresi terselubung menjadi tersembunyi di balik keluhan somatik. Tidak hanya gejala somatik, manifestasi mental berupa “pseudoneurotik” bahkan sering muncul mewakili berbagai “topeng” yang menutupi depresi.

Istilah depresi terselubung pada saat ini dikenal oleh klinisi sebagai gangguan psikosomatik. Studi menunjukkan bahwa depresi terselubung sangat dipengaruhi oleh ciri kepribadian tertentu, usia, menjadi kelompok minoritas, kerentanan fisik, dan latar belakang sosial budaya dari penderita. Depresi terselubung dapat dijumpai secara merata, baik pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.

 Gambaran gejala somatik berupa permasalahan fisik yang muncul dalam bentuk: nyeri punggung bawah, nyeri kepala, rasa berdebar di bagian dada, ketegangan pada leher belakang kepala, rasa tercekik di tenggorokan, kembung, sembelit, gangguan siklus menstruasi dan fungsi seksual. Depresi terselubung terkadang tidak disadari oleh penderitanya, dan malah terdeteksi oleh orang terdekat seperti keluarga sehingga menjadi sesuatu yang harus diwaspadai.

Penderita biasanya cenderung menyangkal adanya permasalahan psikis yang mungkin melatar belakangi gejala somatik yang ada. Studi menunjukkan bahwa bahwa test supresi deksametason dapat digunakan sebagai penunjang       dalam penentuan dari depresi terselubung pada pasien.

Kielholz (1973) telah mendefinisikan istilah depresi tersebung ini sebagai depresi dimana menifestasi fisik menyembunyikan gejala psikopatologi. Pada depresi terselubung, pasien mengalami depresi tetapi tidak mengeluhkan suasana perasaan (mood) yang terganggu. Dalam postulatnya, Kielholz telah menekankan bahwa istilah depresi terselubung menunjukkan suatu diagnosis fenomenologis dan bukan nosologis.Walaupun terkesan kuno, tetapi istilah ini rasanya masih cukup relevan dengan kondisi psikologis yang berkembang di masyarakat perkotaan.

Studi menunjukkan bahwa depresi terselubungmerupakan suatu fase dari perjalanan sindrom depresi. Sebuah laporan penelitian menunjukkan bahwa depresi terselubung memberikan hasil yang baik dengan penanganan psikoterapi suportif yang dikombinasi dengan pengobatan antidepresan. Tehnik relaksasi sederhana juga dikatakan cukup efektif pada depresi terselubung yang menampilkan banyak gambaran gejala pseudoneurotik.

Bentuk psikoedukasi mengenai depresi terselubung dapat diberikan pada penderita yang telah berulang kali melakukan serangkaian pemeriksaan fisik dan penunjang yang tidak membuahkan hasil. Menjadwalkan rekreasi bersama keluarga atau melakukan hobi yang disenangi juga dapat cukup membantu dalam pengalihan keluhan gejala somatik yang dialami penderita.

Sebagai simpulan, depresi terselubung merupakan salah satu penyakit kejiwaan yang umum dijumpai pada praktek dokter sehari-hari dan menghinggapi masyarakat perkotaan. Istilah depresi terselubung ini tentunya menjadi penting dan perlu dikenali oleh dokter umum di layanan primer. Mengingat, diagnosis depresi seringkali terlewatkan pada saat di puskesmas.

Dengan tulisan ini, tentu diharapkan apresiasi terhadap gambaran gejala depresi menjadi lebih baik di masyarakat umum maupun profesional kesehatan, khususnya dokter dan perawat. Karena sesungguhnya, depresi pada dasarnya merupakan penyakit kejiwaan yang dapat dideteksi secara dini

dan tentunya diobati.



Share this Post: