Art Terapy

Terapi Seni (Art Therapy) untuk Anak yang alami Trauma Psikologis akibat Bencana

Seni merupakan bentuk komunikasi yang paling mudah bagi anak dalam mengekspresikan diri secara visual daripada secara verbal. Terapi seni (art therapy) adalah terapi yang dilakukan melalui proses kreatif pembuatan karya seni dalam meningkatkan kesetan baik fisik, mental, psikologis maupun emosional. Terapi seni sangat berguna bagi anak yang alami tekanan emosional akibat peristiwa traumatik, seperti bencana alam atau korban kekerasan. Terapi seni biasanya dilakukan di seting klinis seperti rumah sakit atau klinik kesehatan jiwa dan komunitas misalnya tempat penngungsian bencana alam, sarana publik, panti sosial dan program kesehatan jiwa berbasis sekolah.

 

Art therapy terbukti efektif sebagai intervensi psikososial bagi anak pasca bencana dalam mendukung pemulihan psikologis trauma. Masalah kesehatan jiwa pada anak yang biasanya menggunakan sesi art therapy adalah sebagai berikut: kecemasan, depresi, gangguan emosi dan perilaku, gangguan penyalahgunaan zat, perilaku adiksi gadget (internet), masalah relasi dalam keluarga, trauma kekerasan fisik, bullying (perundungan), kekerasan dalam rumah tangga, gangguan psikosomatis, menolak sekolah, kecacatan fisik, penyakit neurologis, serta masalah psikososial yang berkaitan dengan penyakit fisik (leukemia, kejang, gangguan ginjal, dan diabetes mellitus).

Aktivitas yang dilakukan pada sesi art therapy misalnya: menggambar, melukis, membuat karya seni dari lilin mainan atau tanah lihat, kolase (tempel potongan kertas) serta mewarnai obyek. Tujuan pemberian art therapy pada anak pasca bencana adalah membantu mereka untuk dapat mengkomunikasikan masalah yang sulit diutarakan dengan kata-kata, mengurangi stress dan merekonsiliasi perasaan. Anak yang alami peristiwa traumatik biasanya menunjukkan reaksi trauma berupa ketakutan, kekhawatiran, rasa tertekan, penarikan diri, mimpi buruk, tidak konsentrasi, kehilangan kepercayaan pada orang lain, menolak berbicara, dan keluhan fisik psikosomatis.

Art therapy dapat menjadi bentuk psikoterapi pada anak yang alami pengalaman trauma dengan memberikan kesempatan atau membantu mereka menemukan cara dalam mengekspresikan perasaan melalui aktivitas seni yang menyenangkan. Kreativitas seni yang dihasilkan ditunjukkan melalui pilihan warna, tekanan garis, bentuk, coretan, tebal tipis, dan obyek gambar tertentu yang dapat menjadi pintu masuk bagi terapis dalam berkomunikasi dengan anak.    

Instalasi Keswamas (Kesehatan Jiwa Masyarakat) RSJ Dr Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta dalam sebulan terakhir ini turut berperan sebagai tim kesehatan dalam penanganan krisis dan trauma psikologis dari Kementerian Kesehatan RI pada korban dan orang yang selamat dari bencana gempa di Palu dan Donggala Propinsi Sulawesi Tengah. Kegiatan yang dilakukan berupa sesi art therapy bagi anak yang berada di beberapa titik pengungsian. Aktivitas yang dilakukan adalah menggambar bersama untuk mengekspresikan perasaan, pikiran atau ingatan mereka yang kemudian dilanjutkan dengan sesi penampilan ke depan untuk menceritakan apa yang mereka telah gambar pada saat sesi menggambar bebas.        

Sebagai simpulan art therapy (terapi seni) merupakan salah satu modalitas di layanan kesehatan jiwa anak dan remaja yang dapat menjadi unggulan dalam pengembangan fasilitas di lantai 3 dari gedung baru RSJ Dr Soeharto Heedjaan Grogol Jakarta yang berorientasi sebagai pusat ADHD dan Autisme Center berskala nasional di Indonesia. Di samping itu, dapat pula berkembang nantinya sebagai pusat rehabilitasi bagi anak dan remaja yang alami kecanduan gadget atau adiksi internet. Prediksi kedepan, adiksi internet merupakan salah satu masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja yang akan menjadi sorotan dan terjadi peningkatan angka kejadiannya untuk ditangani dengan pendekatan terapi seni (art therapy).

Share this Post:

Comments